Jam 10 pagi. Aku sedang cuti panjang 3 bulan. Dan kamu biasanya menghabiskan waktu berbisnis dari rumah.
Beginilah jadinya kalau kita tergantung pada penerangan. Lima jam saja ia tidak menyala, begitu cepat kita sewot. Kita berdua lantas bingung mencari-cari aktivitas. Koran hari ini sudah ludes terbaca. Tapi, sebenarnya tidak juga. Tidak semua berita. Hanya yang menarik saja.
“Ayo beli majalah.”
“Yuk!”
Majalah mingguan tentang sosial-politik dan satu majalah soal handphone. Selang sejam berikutnya, sudah tak ada topik lagi. “Yah, mau browsing, lampu mati,” sesalmu. Untuk ukuran aktivitasmu, jelas saja kamu jadi uring-uringan. Semuanya kamu awali dari komputer ini. Dari tenaga yang namanya listrik. Di rumah. “Kalau penting sekali, coba ke warnet saja,” usulku.
Sebenarnya tumben aku tidak begitu uring-uringan. Padahal aku terkenal paling cepat jenuh. Tidak bisa diam. Apalagi kalau listrik mati. Nonton tidak bisa, acara bersih-bersih ter-pending, mau telpon-telponan takut batre habis. Untungnya, saat ada ide puisi lewat, masih ada media lain. Tidak tergantung dengan listrik.
Aku lantas mengambil buku. Biasa, buku tulis tebal yang jadi tumpahan insprirasiku. Aku jadi ingat satu saat kamu bilang, “Kamu ini aneh. Masih ada ya orang memilih buku daripada menulisnya langsung di komputer.” Memang kita tak perlu berdebat. Bukannya soal prinsip. Tapi beginilah sebuah gagasan itu merealisasikan dirinya. Panjang lebar aku mencoba menggambarkan apa yang aku biasa alami ketika ingin menulis. Aku pikir kamu bisa berempati atasnya.
Di halaman yang kosong, aku memikirkan listrik. Betapa kita telah sangat ketergantungan. Di hotel tempatku bekerja, jika listrik mati, para teknisi pasti dengan sigap meyakinkan tombol otomatis sudah mengarah ke generator. Sama sekali tidak ada sela untuk complaint para tamu asing itu.
“Masa kita harus beli genzet?”
“Untuk apa?” kamu sedang terlihat sangat bosan.
“Nggak. Just wandering.”
“Ngapain, bentar lagi juga nyala. Satu kompleks ini kan memang lagi ada pemadaman.”
Benar. Genzet bukan jalan keluar. Lalu, bagaimana memutus mata rantai ketergantungan ini? Andai bisa, negara ini pasti bangkrut. Senangnya bisa membayangkannya. Tak lagi perlu listrik dari negara. Ha ha ha… rasanya aku terlalu jauh menghayal.
Sempat ada liputan di televisi, sekelompok masyarakat yang tidak menggunakan fasilitas listrik negara. Mereka menggunakan tenaga kincir angin. Perlawanan yang realistis, meskipun awalnya karena bosan menunggu mendapatkan giliran untuk disentuh oleh negara. Apa yang mereka lakukan jauh lebih idealis ketimbang aku.
“Finally.” Aku dengar teriakmu di kamar.
“Kenapa?”
“Kerja…. kerja…..”
Wah, sudah menyala. Cucian masih belum kering. Nasi di magic com juga perlu dihangatkan. “Tumpukan baju kok jadi banyak gini sih,” pikirku untuk segera menyetrika.
Sembari menyetrika baju, aku merasa ada yang belum tuntas aku pikirkan.
@ Mei 2008
Ni Made Wawi Adini