puisi, cerpen, esai rasa bali

Entries from May 2008

Listrik Mati

May 28, 2008 · Leave a Comment

Jam 10 pagi. Aku sedang cuti panjang 3 bulan. Dan kamu biasanya menghabiskan waktu berbisnis dari rumah.

Beginilah jadinya kalau kita tergantung pada penerangan. Lima jam saja ia tidak menyala, begitu cepat kita sewot. Kita berdua lantas bingung mencari-cari aktivitas. Koran hari ini sudah ludes terbaca. Tapi, sebenarnya tidak juga. Tidak semua berita. Hanya yang menarik saja.

“Ayo beli majalah.”
“Yuk!”

Majalah mingguan tentang sosial-politik dan satu majalah soal handphone. Selang sejam berikutnya, sudah tak ada topik lagi. “Yah, mau browsing, lampu mati,” sesalmu. Untuk ukuran aktivitasmu, jelas saja kamu jadi uring-uringan. Semuanya kamu awali dari komputer ini. Dari tenaga yang namanya listrik. Di rumah. “Kalau penting sekali, coba ke warnet saja,” usulku.

Sebenarnya tumben aku tidak begitu uring-uringan. Padahal aku terkenal paling cepat jenuh. Tidak bisa diam. Apalagi kalau listrik mati. Nonton tidak bisa, acara bersih-bersih ter-pending, mau telpon-telponan takut batre habis. Untungnya, saat ada ide puisi lewat, masih ada media lain. Tidak tergantung dengan listrik.

Aku lantas mengambil buku. Biasa, buku tulis tebal yang jadi tumpahan insprirasiku. Aku jadi ingat satu saat kamu bilang, “Kamu ini aneh. Masih ada ya orang memilih buku daripada menulisnya langsung di komputer.” Memang kita tak perlu berdebat. Bukannya soal prinsip. Tapi beginilah sebuah gagasan itu merealisasikan dirinya. Panjang lebar aku mencoba menggambarkan apa yang aku biasa alami ketika ingin menulis. Aku pikir kamu bisa berempati atasnya.

Di halaman yang kosong, aku memikirkan listrik. Betapa kita telah sangat ketergantungan. Di hotel tempatku bekerja, jika listrik mati, para teknisi pasti dengan sigap meyakinkan tombol otomatis sudah mengarah ke generator. Sama sekali tidak ada sela untuk complaint para tamu asing itu.

“Masa kita harus beli genzet?”
“Untuk apa?” kamu sedang terlihat sangat bosan.
“Nggak. Just wandering.”
“Ngapain, bentar lagi juga nyala. Satu kompleks ini kan memang lagi ada pemadaman.”

Benar. Genzet bukan jalan keluar. Lalu, bagaimana memutus mata rantai ketergantungan ini? Andai bisa, negara ini pasti bangkrut. Senangnya bisa membayangkannya. Tak lagi perlu listrik dari negara. Ha ha ha… rasanya aku terlalu jauh menghayal.

Sempat ada liputan di televisi, sekelompok masyarakat yang tidak menggunakan fasilitas listrik negara. Mereka menggunakan tenaga kincir angin. Perlawanan yang realistis, meskipun awalnya karena bosan menunggu mendapatkan giliran untuk disentuh oleh negara. Apa yang mereka lakukan jauh lebih idealis ketimbang aku.

“Finally.” Aku dengar teriakmu di kamar.
“Kenapa?”
“Kerja…. kerja…..”

Wah, sudah menyala. Cucian masih belum kering. Nasi di magic com juga perlu dihangatkan. “Tumpukan baju kok jadi banyak gini sih,” pikirku untuk segera menyetrika.

Sembari menyetrika baju, aku merasa ada yang belum tuntas aku pikirkan.

@ Mei 2008
Ni Made Wawi Adini

Categories: cerpen
Tagged:

negeriku, negeri kami

May 25, 2008 · Leave a Comment

bensin naik,
lalu apa?

ayo kita protes.
lha, sudah!
trus bagaimana?

kita coba lewat partai.
mungkin lebih representatif.

gagal juga.
atau tak tahu cara, harus protes bagaimana?

apa sebenarnya kita ini, negeriku…

Denpasar, 25 Mei 2008
Ni Made Wawi Adini

Categories: puisi
Tagged:

Sajak

May 25, 2008 · Leave a Comment

Bagaimanapun engkau memaksa, sajak tak kan datang berteori untukmu. Sudah kubilang bukan? Aku bukan temperatur kata-kata. Jadi, aku tak mau berkomentar akan sajak-sajakmu sebagaimana kritikus. Aku tak ingin diajak pada ruang tertentu entah pola entah kerangka. Mari, aku akan mendekat sebagai tukang baca saja. Modalku hanya jujur setelah sulitnya kita berlaku demikian.

Sungguh, aku tak mengada-ada. Dua lembar pertama yang engkau kirim lewat surat elektronik itu, kumpulan kata-kata yang kaya. Aku bahkan sering hilang kosakata ketika bertutur, apalagi soal ruh. Aku merasa ruh-mu tertinggal, tak turut. Lepas dan mungkin terduduk atau simpuh di luar lingkar sajakmu.

Itu saja.

Aku masih setia membaca lembaran-lembaran lainnya jika ada. Kirimkan yang banyak.

Denpasar, 25 Mei 2008
Ni Made Wawi Adini

Categories: puisi
Tagged:

the day

May 23, 2008 · Leave a Comment

it’s crazy, mad so
couldn’t define what today is
what’s wrong
to the day?
many messages come into my mobile
showing lonely and down

lost,
lost of filling, does it happen?
the humanity will be destroyed
or we have been hopeless since we are dolls in this nation

may 2008
ni made wawi adini

Categories: puisi
Tagged:

sold a soul

May 23, 2008 · Leave a Comment

everybody goes to market carry a big and holy bag in the hands
walk append
go with the hope
think they would got a hope inside the busy people

meanwhile,
few heads with hurt mouth, try to catch them at the way
the scream heard lonely and broken
no eyes with love but spared
it talks about a lump desire to take up the holy big bag
“no.. not for prostituted,” scream hard roar so

the eyes are the eyes
it prefer silent, the legs buried by the people
than life goes on like street walker
some, choose bitch as primary
another do nothing but swim in the river they don’t’ want to

life o, soul
you sold already

ni made wawi adini

Categories: puisi
Tagged: