sudah banyak gambar
ada banyak poster
berarti lakon banyak
satu kekonyolan lagi
pikirku.
ada pesta memilih,
katanya.
kulihat di baligo besar-besar dijalan,
semua tak pucat,
semuanya semangat
punya barisan tulisan atau mungkin pidato
dijual pada kami
dalam benakku,
mengapa aku harus muak?
untuk apa kesal?
bukankah aku hanya perlu datang
mendengarkan apa mauku
mengarahkan tanganku,
memilih
di satu pada tiga tanda pilihan itu
seharusnya hanya itu.
tapi aku kadung melengos.
dan
di luar,
aku bertemu banyak pikiran
juga sedang asyik meluap
lari dari pilihan.
pikirku lagi,
ah, toh bukan aku saja!
12 Juni 2008
Ni Made Wawi Adini
Categories: puisi
Tagged: puisi
“Apa salahnya kalau membuat canang? Saya tidak mengganggu atau bikin cidera siapapun. Tolonglah. Ini hanya soal kepercayaan. Saya tidak memaksamu nak, membuatnya. Jadi tolonglah. Ini tidak melibatkanmu sama sekali. Tidak sama sekali.”
Entah berapa kali ibu ini menjelaskan pada petugas. Tapi benar juga, mungkin ia risih tiap hari rumahnya didatangi petugas yang bergantian berkunjung. Merayu ibu itu. Meyakinkan berkali-kali soal canangnya yang keliru.
“Nak petugas, saya hanya membuat canang. Bahannya dari janur pohon kelapa. Saya potong dengan pisau dengan tangan saya sendiri. Saya buatkan cepernya, burat, saya tidak mencuri janur atau pisau untuk membuatnya. Saya beli. Bunga dan bahan porosan ini nak, sebagian saya beli bunga di pasar sebagian dari bunga saya sendiri.” Kalimat ini selalu jadi jawaban, kali ini si ibu tampak tenang. Tapi lesu. Mungkin lelah. Karena pertanyaan petugas memang yang itu-itu saja. “Kenapa tidak juga mengerti,” barangkali begini pikiran ibu tua ini.
Konon, dalam cerita si ibu, ketika ia masih kecil ia selalu membuat canang. Dijual ke pasar, pagi hingga sore hari. Canang dikenal masa itu digunakan untuk sarana sembahyang orang-orang beragama Hindu. Ia memang Hindu, bukan Hindu India tapi Hindu Bali. Ia menekankan ini entah gunanya apa. Namun jelas sekali dua Hindu ini tampaknya memiliki perbedaan. Barangkali pada tempat dimana Hindu itu tumbuh. (more…)
Categories: cerpen
Tagged: cerpen