Pada malam kamu sakit, 21 Des 1999, 21.55 wib
Ini untuk kesekian kalinya; aku menjadi bingung. Berada disini sendirian juga membuatku merasa kesepian. Setelah kau katakan tentang kekhawatiranmu akan kejadian buruk jika kita harus bersama. Sementara sejak dulu aku sudah bilang bahwa itu tidak perlu terlalu dipikirkan. Seperti kita dulu memulai semuanya dengan begitu saja. Aku akan menjawab jika sampai pada waktu; pada kenyataan yang tidak bisa diterima olehnya. Dia memang emosional; temperamental; picik; namun tidak untuk dihindari selamanya. Mungkin disini kita akan berdebat soal harga diri.
Percayalah, kita bisa selesaikan ini tanpa harus dengan kekerasan. Toh masih ada otak yang bisa mengalahkan otot. Sekali lagi kuyakinkan padamu; ada atau tidak aku disisimu kamu harus menghindarinya. Untuk dirimu sendiri yang sarat akan energi. Pada ambisimu; juga cita-cita, tak ada yang berhak untuk merampasnya. Dengan alasan perasaan sekalipun.
Aku tidak bisa berkata-kata panjang kalau harus menuliskan surat. Apalagi ini soal perasaan. Tidak seperti ketika aku harus menuliskan laporan peristiwa dimana aku harus menyelesaikannya dalam 8000 karakter. Barangkali kau benar, kita akan bisa berpanjang-panjang jika sudah saling berhadapan. Dengan hati yang lebih jernih, ketika rasa rindu telah terhapuskan. Jaga diri baik-baik, sisakan waktu satu atau dua jam untuk merawat perutmu itu. Agar dia merasa senang dan tidak lagi ‘memboikotmu’ dengan rasa sakit.