Sebelum pementasan itu dimulai

Aku sedang menuju sebuah pementasan seni. Sembari menunggu, aku menemukan di luar area pementasan, dua perempuan muda, ABG dan berpakaian SMU sedang asyik ngoceh. Mereka membahas tentang pacaran. Si A berpandangan, ia akan mencari cowok ganteng dan pemain basket. Dan bermobil. “Tiga kriteria,” pikirku.Si B berangan-angan punya cowok pemain band, punya motor besar dan berkacamata. “Tiga kriteria,” pikirku lagi.

Barangkali mereka belum punya pacar. Keduanya manis-manis. Dari cara berpakaiannya, mereka bisa digolongkan anak gaul dan nge-pop. Energi anak mudanya sangat agresif dan centil. Gejolak muda yang selalu punya angan-angan.

Aku jadi ingat masa ketika aku selabil dua perempuan muda itu. Aku begitu malu mengendarai mobil karena laki-laki yang kutaksir menggunakan kendaraan umum sebagai transportasinya. Lalu aku pun menirunya. Menjadi akrab dengan kendaraan umum atau ojek. Aku ingin punya pacar yang bisa kuajak berdiskusi dan pergi bersama-sama ke toko buku.

Aku ingin pacar yang bisa kuajak liputan bareng karena aku bekerja paruh waktu di sebuah tabloid pelajar. Aku ingin pacar yang bisa menemaniku menonton konser musik sembari menuliskan eventnya untuk rubrik liputan khusus. Kala itu, setiap momen adalah berdentam.

Wah, pementasan seni yang kukunjungi akan segera tampil. Aku membuyarkan kenangan masa labilku dan menikmati panggung remang yang tak kalah energiknya. Para pemain yang ditempa oleh gerak tubuh dan olah vokal yang sangat lihai. Aku tenggelam didalamnya.

Wawia | 11 Sep 2011

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s