puisi, cerpen, esai rasa bali

Entries categorized as ‘esai’

memilah

June 13, 2009 · Leave a Comment

Jika ada kumpulan jerami kering bercampur dengan debu sejarah, ajari aku bagaimana memilahnya? Aku takĀ  bisa membedakan waktu dan menunggu. Bilangan-bilangan itu pudar dan tak bernilai karena aku kadung luntur di masa yang tak bisa berpikir. Sudah enam tahun aku tak bisa berpikir. Aku gila. Gila pada masa yang memberikan keleluasaan ruang.

Aku pasti bisa kembali ke serat otakku jika aku ingin kembali. Adakah satu yang bisa mengerti dan masih mengenali aku? Aku ingin dibantu. Jika ada ritual, barangkali itulah ritual pengembalian nyawa.

Juni 2009

ni made wawi adini

Categories: esai

Kita Sudah Mati

April 24, 2007 · 1 Comment

Kedaulatan itu hanya milik beberapa orang saja di negeri ini. Kedaulatan tidak lagi ada di tangan rakyat. Kedaulatan ada di tangan negara. Kedaulatan bukan lagi milik semua manusia. Negara buta, rakyat tidak paham!

Negara enggan melihat apa yang menjadi kedaulatan rakyat. Rakyat tidak paham bahwa negara wajib melindungi kedaulatan mereka. Karena rakyat bodoh! Dan negara tidak suka jika rakyat cerdas!

Rakyat tidak tahu bahwa mereka, kita tidak hidup sendiri. Rakyat tidak sadar bahwa kedaulatan yang seharusnya di tangan mereka, telah diambil alih oleh negara. Rakyat tidak tahu perlahan dicuci otaknya oleh negara. Rakyat tidak tahu bahwa negara ini tetap berdiri karena hutang. Rakyat tidak tahu bahwa hutang itu entah kapan bisa dibayar. Rakyat tidak tahu dengan siapakah negara berhutang. Rakyat tidak tahu untuk apa hutang itu. Rakyat tidak tahu mengapa ada yang mau memberi hutang. Rakyat tidak tahu kenapa negara harus berhutang. Rakyat tidak tahu kemana hutang negara digunakan. Rakyat tidak tahu siapa yang harus membayar hutang. Rakyat tidak tahu berapa besar hutang negara. Rakyat tidak tahu apa itu hutang negara!

Negara berhutang atas nama rakyat! Dan negara tidak pernah memberikan penjelasan kepada rakyat!

Negara hanya berbicara kepada koran. Padahal rakyat tidak bisa membaca. Negara hanya berbicara pada radio. Sementara rakyat belum memiliki radio. Negara hanya berbicara kepada televisi. Padahal rakyat tidak mampu memiliki televisi. Rakyat tidak menikmati apa yang dibicarakan negara. Karena negara berbicara dengan bahasa negara, bukan bahasa rakyat!

Rakyat sudah tidak memiliki arti. Kedaulatan rakyat sudah mati. Mati dibunuh oleh negara yang dibentuknya sendiri.

Categories: esai