Apakah engkau jujur dalam setiap note itu?

Apakah engkau jujur dalam setiap note itu?
Aku menjawabnya begini : ada proses pengendapan yang terjadi sebelum ia berbentuk syair atau prosa atau essay. Ada kerangka yang sering terbentuk dengan sendirinya termasuk bagaimana ekor tulisan itu teraktualisasi. Kepada diriku, hidupku dan tulisanku, dedikasi kejujuran aku persembahkan.

Wawia | 11 Sep 2011

Sebelum pementasan itu dimulai

Aku sedang menuju sebuah pementasan seni. Sembari menunggu, aku menemukan di luar area pementasan, dua perempuan muda, ABG dan berpakaian SMU sedang asyik ngoceh. Mereka membahas tentang pacaran. Si A berpandangan, ia akan mencari cowok ganteng dan pemain basket. Dan bermobil. “Tiga kriteria,” pikirku.Si B berangan-angan punya cowok pemain band, punya motor besar dan berkacamata. “Tiga kriteria,” pikirku lagi.

Barangkali mereka belum punya pacar. Keduanya manis-manis. Dari cara berpakaiannya, mereka bisa digolongkan anak gaul dan nge-pop. Energi anak mudanya sangat agresif dan centil. Gejolak muda yang selalu punya angan-angan.

Aku jadi ingat masa ketika aku selabil dua perempuan muda itu. Aku begitu malu mengendarai mobil karena laki-laki yang kutaksir menggunakan kendaraan umum sebagai transportasinya. Lalu aku pun menirunya. Menjadi akrab dengan kendaraan umum atau ojek. Aku ingin punya pacar yang bisa kuajak berdiskusi dan pergi bersama-sama ke toko buku.

Aku ingin pacar yang bisa kuajak liputan bareng karena aku bekerja paruh waktu di sebuah tabloid pelajar. Aku ingin pacar yang bisa menemaniku menonton konser musik sembari menuliskan eventnya untuk rubrik liputan khusus. Kala itu, setiap momen adalah berdentam.

Wah, pementasan seni yang kukunjungi akan segera tampil. Aku membuyarkan kenangan masa labilku dan menikmati panggung remang yang tak kalah energiknya. Para pemain yang ditempa oleh gerak tubuh dan olah vokal yang sangat lihai. Aku tenggelam didalamnya.

Wawia | 11 Sep 2011

Apakah kekayaanmu?

Bertemu dengan beberapa kumpulan orang yang kaya secara finansial adalah pengalaman yang inspiratif.

Suatu saat ketika bertemu dengan sanak saudara yang berduit, aku memilih diam jika ia memamerkan kekayaan. Karena hartaku hanyalah senyuman dan tulisan-tulisan kecilku. Diberikan kesempatan untuk berbincang dengan teman yang punya kekayaan lebih, aku akan meledeknya habis-habisan jika ia mengunggulkan harta. Karena aku hanya berhartakan kata-kata dan kehangatan. Kalau kudapati atasanku mengelu-elukan keuangannya, aku akan melotot dan mengosongkan pikiranku. Aku hanya punya keterampilan berpikir sebagai kekayaan.

Bertemu dengan orang yang mengumbar teori apalagi filsafat adalah lebih dari inspiratif. Bagiku ini adalah kekayaan. Barangkali ini yang disebut pubertas kejiwaan yang abnormal. Entah, aku kadang berlebihan jatuh cinta akan studi pustaka. Aku akan semakin ternganga jika orang itu agak melebihkan kata-kata dengan metode logikanya dan melakukan modifikasi kekinian akan teorinya. Ah, kayakah aku?

Wawia
8 Sep 2011

bercakap-cakap denganmu

Pinjamkan aku sinar matahari untuk bisa terus bercerita denganmu
Aku tidak mau ada malam hari karena akan membuat kita tertidur
Dan tidur hanya akan menenggelamkan angan-angan dan mematikan rasa penasaran
akan rahasia kita

Biarlah ini selalu menjadi pagi
Aku yang menyemangatimu dan engkau yang menyemangati aku.

Wawia
6 Sep 2011

surat cinta 2

Pada malam kamu sakit, 21 Des 1999, 21.55 wib

Ini untuk kesekian kalinya; aku menjadi bingung. Berada disini sendirian juga membuatku merasa kesepian. Setelah kau katakan tentang kekhawatiranmu akan kejadian buruk jika kita harus bersama. Sementara sejak dulu aku sudah bilang bahwa itu tidak perlu terlalu dipikirkan. Seperti kita dulu memulai semuanya dengan begitu saja. Aku akan menjawab jika sampai pada waktu; pada kenyataan yang tidak bisa diterima olehnya. Dia memang emosional; temperamental; picik; namun tidak untuk dihindari selamanya. Mungkin disini kita akan berdebat soal harga diri.

Percayalah, kita bisa selesaikan ini tanpa harus dengan kekerasan. Toh masih ada otak yang bisa mengalahkan otot. Sekali lagi kuyakinkan padamu; ada atau tidak aku disisimu kamu harus menghindarinya. Untuk dirimu sendiri yang sarat akan energi. Pada ambisimu; juga cita-cita, tak ada yang berhak untuk merampasnya. Dengan alasan perasaan sekalipun.

Aku tidak bisa berkata-kata panjang kalau harus menuliskan surat. Apalagi ini soal perasaan. Tidak seperti ketika aku harus menuliskan laporan peristiwa dimana aku harus menyelesaikannya dalam 8000 karakter. Barangkali kau benar, kita akan bisa berpanjang-panjang jika sudah saling berhadapan. Dengan hati yang lebih jernih, ketika rasa rindu telah terhapuskan. Jaga diri baik-baik, sisakan waktu satu atau dua jam untuk merawat perutmu itu. Agar dia merasa senang dan tidak lagi ‘memboikotmu’ dengan rasa sakit.